Cara Mudah Membangun Startup

Belakangan ini, kata startup menjadi sebuah istilah yang banyak digunakan oleh para pengusaha muda, terutama yang bergelut di dunia teknologi digital. Perusahaan rintisan banyak sekali didirikan tidak hanya oleh mereka yang sudah berpengalaman, bahkan oleh mereka yang baru lulus ataupun yang masih duduk di bangku kuliah, atau malah sekolah menengah.

Karena apa? Startup saat ini begitu mudah dibangun, hanya perlu ide dan eksekutor berupa team yang terdiri dari dua orang atau lebih tanpa memerlukan modal besar awalnya.

Jika perlu tempat kerja, tinggal cari foodcourt atau cafe yang menyediakan akses wifi yang memadai, atau bisa juga ke coworking space yang semakin menjamur di kota-kota besar di berbagai belahan dunia.

Kemudian ketika tumbuh menjadi besar, sudah banyak investor baik angel maupun venture capitalist yang bersedia menggelontorkan pendanaan untuk menjadikan startup sebagai sebuh korporasi besar beraset digital.

Namun di balik itu, ada banyak juga yang kemudian meredup, bahkan terjadi pada beberapa startup yang sempat tumbuh kemudian tak bisa dipertahankan lagi dan akhirnya terlupakan begitu saja. Tetapi bagi para pendiri, indahnya cerita dari keberhasilan Facebook, Instagram, Snapchat, Youtube dan sebagainya seakan menjadi bahan bakar penghasil energi yang tak habis-habisnya untuk terus bertarung mengatasi berbagai hambatan.

Ada juga mereka yang telah menjadi veteran setelah mengarungi samudra startup mulai dari kelas garasi hingga menjadi raksasa kemudian berbagi pengetahuan dan pengalaman yang berharga.

Salah satunya adalah Guy Kawasaki, mantan chief evangelist di Apple -sebuah jabatan yang tidak diketahui oleh banyak orang- serta pengusaha dan investor.

Seni Untuk Memulai

Kawasaki membagi tulisannya menjadi 4 bagian, yakni Conception, Activation, Proliferation dan Obligation. Dengan gaya penulisan yang santai -ciri khas darinya yang juga sama seperti ketika ia bicara di panggung- namun apa yang disampaikan oleh Kawasaki sangatlah serus. Tujuannya sederhana, ia ingin membuat entrepreneurship menjadi mudah bagi setiap orang.

Di bagian pertama, Conception, yang terdiri dari hanya 1 bab, Kawasaki menunjukkan hasil pengamatannya mengenai apa yang menjadi alasan sebuah perusahaan hebat dimulai, yakni pertanyaan-pertanyaan seperti:

  • Therefore, what? (Lalu, apa?)
  • Isn’t this interesting? (Tidakkah ini menarik?)
  • Is there a better way? (Adakah cara yang lebih baik?)
  • Why doesn’t our company do this? (Mengapa perusahaanku tidak melakukannya?
  • It’s possible, so why don’t we make it? (Jika mungkin, kenapa kita tidak melakukannya?
  • Where is the market leader weak? (Dimana kelemahan pemimpin pasar?)

Selain itu juga dibahas konsep-konsep memulai startup seperti posisi pendiri, mencari partner yang memiliki kesamaan dalam beberapa hal. Menurut George Berkowski dalam bukunya, How To Build a Billion Dollar App, yang paling penting adalah para pendiri harus memiliki kesamaan tingkat passion.

Sama seperti buku-buku tentang startup lainnya, para pendiri startup harus memiliki model bisnis yang bisa menghidupi perusahaannya.

Model bisnis yang disajikan dalam buku ini cukup banyak dan menariknya, Kawasaki justru mengutip sebagian dari buku penulis lain, Adrian Slywotzky The Art of Profitability.

Salah satu rumus yang diberikan dalam bab ini adalah MAAT (Milestone, Assumption, Tests, Tasks) untuk menjaga agar startup tetap dalam kontrol meskipun ada begitu banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Juga ia menganjurkan agar para pendiri selalu menjaga segala-sesuatunya sederhana dan rapi.

Terakhir, sebagai penutup dari bagian pertama, Kawasaki memberikan sederet pertanyaan-pertanyaan untuk membantu para pendiri dalam menemukan dan menentukan penasehat dan investor.

Aktifkan

Peembahasan selanjutnya dari Kawasaki adalah mengeksekusi ide atau mengaktifkan startup. Ada 5 bab yang mendetil tentang launching, memimpin, mencari dana dan investor. Ada istilah GIST disini yaitu Great Ideas for Starting Things. Ide menarik selalu relatif terhadap setiap orang, karenanya jangan hanya berhenti pada ide dan test saja, dan jangan menunggu sampai produk menjadi sempurna.

Luncurkan produk app yang telah memenuhi syarat Minimum Viable Product. Ia juga mengenalkan rumus DICEE (Deep, Intelligent, Complete, Empowering, Elegant) untuk membantu para pendiri dalam melakukan lompatan kurva untuk launching produk. Kawasaki juga memberikan advis yang cukup panjang mengenai pemilihan nama produk (hal. 35).

Ada penjelasan penting dalam bagian ini, yaitu pembahasan mengenai Cross the Chasm, yang dikutip dari buku karya Geoffrey Moore yakni siklus pengenalan produk baru dimana terdapat celah cukup besar antara pengguna awal (early adopters) dengan mayoritas awal (early majority). Kaum mayoritas awal baru akan menggunakan produk jika para early adopters sukses dan senang menggunakan produk baru tersebut (hal. 42).

Mengenai kepemimpinan, bagi Kawasaki bidang tersebut merupakan hal yang tidak mudah. Untuk itu ia sampai menyediakan satu bab khusus untuk menjelaskannya, yaitu di bab 3. Sedangkan mengenai pendanaan, ada 3 bab terkait di dalamnya.

Pada bab 4 Kawasaki memberi gambaran bahwa bagi startup untuk mendapatkan pendanaan adalah sebuah tantangan besar, oleh karenanya ia memulai dengan bootstrapping, yakni mendanai startup secara mandiri. Setelah itu barulah ia membeberkan mengenai cara fund-raising dan pitching, yaitu beberapa istilah startup terkait dengan investasi.

Sebenarnya memang kalau mau sedikit berusaha, bootstrapping sangat memungkinkan untuk dilakukan. Kita bisa menggunakan jasa developer freelace yang sekarang bisa dengan mudah ditemukan di marketplace jasa.

Untuk kantor tidak perlu tempat mewah, virtual office bisa menjadi alamat resmi dan legal, komunikasi tersedia dengan mudah, dan infrastruktur bisa menggunakan cloud tanpa perlu membeli server yang mahal.

Untuk fund-raising, ada beberapa cara tersedia seperti melalui crowdsourcing yang difasilitasi oleh beberapa situs seperti Indiegogo dan Kickstarter. Sedangkan untuk angel investor maupun venture capital (hal. 102-103), meskipun populer bukanlah cara yang mudah untuk mendapatkan pendanaan dari mereka karena tingginya standar dan persaingan diantara banyak startup. Tetapi bagi mereka yang mau memperjuangkannya, Kawasaki memberikan penjelasan dalam bab 6 mengenai pitching.

Bertumbuh

Guy Kawasaki menggunakan istilah proliferation yang bisa berarti berkembang, bertambah banyak, maupun bertumbuh dalam bagian ke 3 bukunya. Dalam perkembangan startup, tentunya tidak lepas dari membentuk team (hal. 173).

Secara teori memang mudah menentukan berbagai kriteria untuk menentukan anggota team yang akan kita rekrut.

Tetapi dalam dunia nyata, kadangkala mencari satu orang saja yang memenuhi kriteria cukup sulit. Kalaupun ada, saat kita baru memulai mungkin tak akan cukup dana untuk merekrutnya. Membayar dengan saham? Belum tentu mau dengan kondisi yang masih belum pasti.

Mungkin karena Kawasaki adalah mantan ‘Evangelist’ di Apple, maka ia menyediakan satu bab khusus mengenai The Art of Evangelizing.

Menjadi seorang evangelis harus berpikir bagaimana meyakinkan pada dunia bahwa produk tersebut berharga dan berbeda dari yang sudah ada di market (hal. 192).

Sosial media saat ini menjadi sarana efektif untuk marketing dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Platform sosial media utama saat ini yang penting untuk digunakan adalah Facebook, Google+, Instagram, Linkedin, Pinterest, Twitter dan Youtube (hal. 215). Kerahkan semua platform ini untuk mendukung promosi produk Anda.

Jika Anda tidak paham bagaimana mempromosikan produk melalui sosial media, temukan di tutorial yang tersedia online, jangan terpaku pada tips yang tersedia dalam buku ini, karena dunia sosial media selalu berkembang.

Ada satu bab menarik yang diberi judul ‘The Art of Rainmaking’ yang pada dasarnya adalah mengenai penjualan produk dengan berbagai kemungkinan. Ada kalanya produk justru tumbuh dan berkembang di segmen yang berbeda dari yang dituju sejak awal (hal. 243).

Selain itu, sebagai produk baru yang memasuki market, edukasi juga penting untuk dilakukan (hal. 247).

Sisa dua bab terakhir digunakan Kawasaki untuk memberikan pemahaman mengenai partnership dan enduring (bertahan). Seorang pendiri startup tidak selalu bisa satu passion dengan partner yang bersama-sama mendirikan perusahaannya. Partnership yang tepat akan mempercepat mengalirnya arus kas, meningkatkan penjualan dan menurunkan biaya (hal. 256).

Partnership juga tidak hanya antara personal dengan personal lainnya, tetapi juga antara perusahaan dengan perusahaan yang saling mendukung operasional. Enduring adalah seni bertahan, karena membangun dan menjalankan bisnis apalagi startup bisa memakan waktu bertahun-tahun sampai mencapai keberhasilan (hal. 267).

Buku karya Guy Kawasaki ini memang bisa dikategorikan sebagai buku best practice yang bisa menjadi pegangan untuk yang hendak membangun startup. Selain berbagai tips praktis, gaya penulisan yang menarik dan santai serta referensi dari pengalaman pribadinya.

About dirga antara

Over the past 4 years, I have gained valuable experience in writing articles. In carrying out the role as an article writer, I am accustomed to conducting in-depth research, analyzing information, and compiling writing with a clear and organized structure. I am also always committed to providing accurate, relevant and interesting content for readers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *